Sarasehan Ngomongin KPK

Saya sengaja menilik kembali dan mencoba merangkum poin poin yang saya pikir penuh dengan makna. Setidaknya sebagai pengingat semangat untuk diri sendiri, syukur jika turut bermanfaat.


Kamis, 11 april 2019, waktu itu memperingati 2 tahun tragedi penyiraman air keras yang di alami pak Novel Baswedan.


Novel Baswedan: Tidak pernah ada suatu negara yang akan bisa maju apabila penegakan hukumnya hukumnya bermasalah, apabila teror yang terjadi dibiarkan, apabila pemberantasan korupsinya bermasalah.


Najwa Shihab: Ini bukan soal seorang novel baswedan, serangan ini bukan serangan individu, ini juga bukan serangan kasuistik, ini sistematis, dan terjadi sejak lama.

Yang paling dirugikan dari berbagai serangan itu bukan individunya saja, melainkan publik, yaitu kita, ibu, anak sekolah, mahasiswa, semua orang. yang dirugikan atas kejahatan itu publik.

Penggarongan uang negara yang terjadi di kantor-kantor pejabat, kamar-kamar politisi, barak penjara, sel, sampai lapangan sepak bola, ini terjadi di seluruh aspek kehidupan kita.


Cak Nun: Reformasi saya tinggalkan, karena saya tidak paham, ternyata teman-teman saya adalah sorharto-soeharto kecil yang ingin menjadi soeharto juga.
beliau menyebutnya ini sebagai miskomunikasi, bahwa miskomunikasinya beliau adalah terhadap wajah baru masa reformasi, terlebih adalah wajah Indonesia sekarang ini.

Indonesia ini harus ditolong!, kalau diibaratkan bis, ini sebenarnya masalahnya ada pada sopirnya, atau pada kondekturnya yang suka nguntit duit terus, atau pada kernet yang suka ngasih kode yang salah pada sopir, atau mesinnya yang rusak, atau memang seluruh isi bus ini yang memang rusak dan harus di revolusi habis-habisan, atau ganti bus saja?

mohon maaf, di negara ini, anda tidak dilindungi siapa-siapa, orang Indonesia kenapa kuat? karena tidak adanya perlindungan dari negara dan pemerintah, pemerintah malah banyak yang mengancam penduduknya.


Najwa Shihab: KPK itu mudah dicintai masyarakat, tapi kan cinta itu harus dirawat ya dek, cinta itu perlu ada rasa manja, manja itu kan sehat kan ya dalam hubungan :D, publik butuh tau, kalau kita dibutuhkan oleh KPK, dan itu yang rasanya saat ini kurang. 

rasa cinta itu beda dari yang dulu sama yang sekarang, masih ingat kasus cicak dan buaya? dan sekarang? masih cinta sih, namun sayang cintanya enggak dirawat. Ketika rumah pimpinan KPK dilempar bom molotov, enggak apa apa kok, jika pimpinan KPK menceritakan pada publik, apa yang sebenernya terjadi, tidak ditutup-tutupi. kita itu mau tau apa yang terjadi. Pimpinan KPK harus jadi orang terdepan menunjukkan keberpihakan dan pembelaan, karena dengan cara itu, hanya dengan cara itu, cinta ini bisa terus berlanjut.  

Bagaimana menunjukkan cinta?, jika yang dicintai menutup diri bahkan tidak mau menunjukkan kelemahannya.

Monolog Najwa Shihab: 

Novel Baswedan bukanlah satu satunya korban,

banyak aktivis yang mengalami penganiayaan, 

jauh sebelum orde reformasi berdiri pejuang anti korupsi memang kenyang represi, 

amat sedikit penyerangan yang bisa terungkap, 

kebanyakan berakhir dibalik tirai yang gelap, 

inilah pekat yang dari waktu ke waktu yang kian menebal, 

membuncah sebagai serangan yang merongrong mental, 

sebuah siasat untuk menggerus kepercayaan, 

gerilya untuk mengikis lapis-lapis keberanian, 

maka cerita novel adalah kisah kita semua, 

mata novel adalah kita yang ingin tetap menyala, dan nyala yang sanggup melumerkan berlaksa himpitan hanyalah barisan solid yang tidak sudi berberaian, 

sebab sistem hanya bisa dibongkar oleh pergerakan, bukan satu dua kepal tangan diiringi teriakan,

menghadapi badai serupa gelombang korupsi tak ada superhero yang  sanggup melawan sendiri, toh kita bukan para hero yang hendak menumbalkan diri, 

tak sekedar memanggungkan heroisme yang berapi-api, bukan pula prajurit yang pergi ke kurusetra di suatu pagi yang pulang dengan kepala tertunduk pada petang hari, 

kaki-kaki yang malam ini tegak berdiri disini adalah anak-anak masa depan tanpa panji-panji, 

kita hanya potongan sejarah yang kikih menyungging, agar kelak wajah Indonesia penuh senyum tersungging, 

bukan wajah Indonesia yang bopeng oleh muram durja oleh batalyon mafia yang mahir menggarong harta negara, 

pegang terus tiang bendera walau sedang tak berkibar, 

harapan adalah sarapan pagi untuk yang tak gentar, 

tekat kita harus terus berbiak, karena koruptor pandai beranak pinak, 

kita niscaya akan menua, mutlak untuk berlipat ganda agar barisan ini selalu ada, 

yang tak bisa membunuh kita akan membuat kita menguat, cepat atau lambat, barisan ini niscaya akan menghebat. 

hidup KPK!



Komentar