Kalimantan adalah pulau yang memiliki limpahan kekayaan sumberdaya alam dan dikenal juga sebagai pulau yang masih belum padat penduduk layaknya pulau jawa, sehingga tidak menjadi rahasia publik lagi jika kalimantan akan menjadi pilihan yang sebagian orang dinilai relevan untuk para perantau, banyaknya perusahaan perusahaan ekstraksi ataupun perusahaan perkebunan kelapa sawit, dan berbagai perusahaan tanaman industri lainnya, di angan-angan orang yang tinggal di jawa, sebagian pasti akan menilai, kalimantan itu daerah yang ideal untuk para perantau mencari pekerjaan.
Disini aku akan memberikan pandangan pribadi terkait bagaimana kenyataan yang mungkin bisa memberikan gambaran betapa pentingnya mempertimbangkan matang-matang terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk merantau ke kalimantan, khususon Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Timur. Kalau boleh spesifik lagi “Di Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit”, sebelumnya aku disclaimer dulu, bahwa point of view opini ini berdasarkan pengalaman hidup pribadi dan tidak di sponsori apapun selain kesadaran penuh dari tuhan hehe.
Pertama, jauh jauhkanlah sugestimu terbaik tentang Kalimantan Timur, bahwa disini penuh dengan kesejahteraan ekonomi atau kenyamanan, kemudahan akses. Okelah jika kenyamanan itu mungkin subjektif, kalian bisa menilai sendiri bagaimana kenyamanan menurut pribadi masing-masing, namun poin tentang kesejahteraan ekonomi dan mungkin harus menjadi perhatian khusus bagi kamu yang akan merantau ke kalimantan Timur, jangan lalu tersugesti Kalimantan Timur itu daerah yang akan maju karena ada IKN, tolongg deh, IKN itu baru di bangun dan letaknya pun di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, sedangkan luas dari Provinsi Kalimantan Timur itu 127.346,92 km, betapa luasnya yang jelas jika mau perjalanan motoran dari ujung ke ujung di provinsi ini pun gak cukup 24 jam nonstop sekalipun, siap siap aja pijit punggung pantat kamu yang pasti akan kemeng gringgingen teng-tengg.
Imbauan ini bukan untuk investor yang sudah punya segebog uang ya, hanya untuk para Gen-Z yang belum punya apa apa selain tekat nekat pingin jadi konglomerat, cia candaa. Kembali lagi ke topik. Kalimantan Timur walaupun memang sudah di proyeksikan menjadi provinsi letak Ibu Kota Nusantara, namun dirasa itu juga tidak lantas semua orang bisa merasakan kesejahteraan ekonomi, apalagi dengan jarak waktu yang dekat, pasti masih membutuhkan waktu cukup lama. Sedangkan kondisi saat ini, yang aku lihat sebagai kerani baru di perusahaan sawit melalui sedikit wawancara dan pengamatan kehidupan para pekerja buruh utamanya yang ada di komplek perkebunan kelapa sawit, hidup juga begini gini saja, disini hanya menjadi tempat mencari uang dan menabung, sejahtera dalam ekonomi sepertinya juga relatif tergantung individu ya, yang jelas tidak bagi pejudi online akut. perlu bertahun tahun bahkan puluhan tahun untuk punya cukup tabungan yang entah itupun sudah cukup untuk beli sepetak tanah di zaman sekarang atau masih kurang, eh kayanya sih cukup, cuman seukuran kandang ayam kayanyaa “eh ini bukan untuk posisi yang udah posisi atas ya apalagi gaji sudah dua digit”.
Ketika ingin memutuskan untuk merantau harus benar benar hidup yang jelas sangat berbeda dengan kehidupan sebelumnya, dalam segi kehidupan, karena gak tepat aja jika membanding-bandingkan setiap daerah seperti kehidupan kalimantan dengan jawa, jelas beda lahh, namun jelas dengan ini kamu sepatutnya harus mendown grade ekspetasi berlebihan tentang Kalimantan Timur. karena disini bukan tempat nyaman bagi kamu yang mageran.
Kedua, sekalipun jangan harap infrastruktur umum jalan raya sudah semulus jalan politik kaesang dan gibran, tentu tidak dong. Kalimantan Timur terkhusus jika kamu mau merantau menjadi pekerja di perkebunan sawit atau di perkebunan tanaman industri lain jangan harap bisa mendapatkan fasilitas jalan yang mulus, disini mayoritas jalan raya beralaskan tanah liat dan bebatuan, ialah jalan yang berdebu parah ketika cuaca cerah, dan serba licin di roda kendaraan jika selepas hujan namun legket di alas sendal jika kita jalan kaki, serba susah deh, ditambah lagi, jika ingin berpergian siap siap saja baju, tas penuh dengan debu jalan tanah, jangan lupa bermasker selalu, yakin mau hidup seperti itu terus? Pertimbangkanlah, mungkin akan cocok merantau kesini kalau sudah tahun 2045.
Ketiga, kebutuhan air keperluan sehari-hari berasal dari sungai atau anak anak sungai yang ada di sekitar komplek perkampungan pekerja/buruh perusahaan, (kebetulan hidupku di kawasan perkebunan kelapa sawit), coba bayangkan eh gak usah di bayangin deh, cukup baca aja cerita randomku ini. Air untuk kebutuhan sehari hari semua orang yang hidup di kawasan perusahaan kelapa sawit ini khususnya, menggunakan air sungai, rill sungai yang di pompa menggunakan diesel lalu ditampung di kolam sebagai tandon air yang berada di daerah yang lebih tinggi dari pemukiman barak pekerja/buruh perusahaan (rumah bagi buruh atau pekerja ini disebut barak, padahal bersamaan makna kata “barak” adalah kandang kambing wkwk, ini hanya sebagai prespektif aja sih, coba aja cek KBBI), karena memang kebetulan kontur tanah disini berbukit bukit, jadi ada banyak gundukan bukit bukit kecil posisinya yang lebih tinggi.
Tidak selesai di tandon itu saja, air sungai yang sudah di tampung di tandon lalu di salurkan langsung ke semua barak tanpa ada pemrosesan terlebih dahulu, sedangkan air sungai itu sudah mengalir sedemikian jauh dan pasti tidak dapat dipungkiri bercampur dengan limbah limbah domestik warga yang berada di hulu sungai, dengan itu saja sebenarnya sudah begitu miris keadaan kebutuhan dasar manusia (air bersih) untuk memenuhi hajat manusia. tidak sampai disitu, air ini mengalir juga tidak 24 jam, ia hanya mengalir pada setiap waktu maghrib, kira kira hanya 30 menit air dapat mengalir, tak jarang juga telat atau bahkan tidak mengalir sama sekali, jadi tidak ada pilihan lain selain berburu air di masjid yang biasanya stok air masih mengalir, atau memilih menahan diri untuk tidak mandi untuk waktu itu.
Jika tulisanku ini kurang memberikan gambaran bagaimana keadaan tentang air sebagai kebutuhan dasar, ada cuplikan singkat di Highlight/sorotan second akun instagramku @nuusantaraa_ terkait kebutuhan air dan pernah juga terjadi pencemaran air sungai akibat dari pembuangan limbah dari pertambangan batubara dari PT. Indexim Coalindo, ini berdasarkan keterangan warga yang saya wawancarai kala itu aku mengambil video pada tanggal 3 juli 2024, betapa mirisnya, sudah air tercampur limbah orang yang berada di hulu sungai, ternyata juga jadi objek kecerobohan korporasi besar pertambangan batubara dengan membuang limbahnya ke sungai, padahal sungai itu menjadi kebutuhan vital sehari hari warga.
Persoalan tentang air tidak sampai di situ, air yang digunakan untuk kebutuhan minum sehari hari pun hasil dari proses air sungai itu, sekali lagi, dengan ini, jika kamu ingin meranta ke sebuah tempat terlebih di daerah perusahaan kelapa sawit yang ada di kalimantan timur, riset dengan teliti bagaimana keadaan kehidpan kelak, pemenuhan kebuthan dasar seperti apa, apakah layak dan apakah steril, ini juga demi tubuh kita sendiri, demi kesehatan tubuh kita, wkwk tapi aku sendiri mengalami begini, yaudah gapapa buat pelajaran aja, kalo di fikir fikir juga, siapa si yang paling diuntungkan adanya perkebunan kelapa sawit seperti ini, apakah hak hak pekerja semua terpenuhi, dan jika terpenuhi, apakah layak?, aku rasa juga, harus ada keberanian untuk bilang bahwa gak semua layak kok.
Keempat, Kalimantan terlalu banyak memilii Blank Spot Signal, jika kamu terbiasa dan tidak ingin kebutuhan dalam internet tidak mau terganggu, sepertinya dengan ini cukup jelas kalau Kalimantan Timur bukan pilihan yang tepat untuk menjadi tempat perantauan kerja. Pandangan setiap orang terkait kebutuhan internet juga tidak bisa di sama ratakan, ini pun tergantung bagaimana orang itu menilai seberapa penting kebutuhan internet untuk dirinya, jangan lantas mudah menghakimi jika orang memang membutuhkan jaringan internet itu orang yang gila sosial media pansos di media sosial dan hidup everyday di jagat maya, heyy paci peyot, kalau kamu tidak memerlukan internet, atau tidak butuh yaudah itu pilihan kamu sendiri, jangan menyamakan pemkiran orang itu sama kayak apa yang ada di kepalamu.
Perlu diakui sih sebenarnya mutu edukasi yang memerlukan akses internet itu sangatlah membantu meningkatnya kualitas pendidikan, mungkin karena kurangnya apalah dikata maka tak jarang juga di sekitar itu banyak orang yang dengan mudah menuduh, kalo bahasa jawa disebutnya “ngarani wong sak penak e dewe”, haha ini berasal dari keluhan pribadi sih soal akses internet aja bisa dimarahin atasan, padahal memang gaada sinyal, eh malah kena marah, “kalo kamu itu kerja di perkebunan itu harus survive cari sinyal, gaada alasan kamu gabisa online, aku gamau tau kamu harus bisa cari sinyal” lahh, gimana sih anehh banget, dengan hormat suatu saat kalo ibu ini membaca tulisanku haha, orang gaada sinyal, jaringan juga trouble.
Begitulah keadaan internet, sekalipun di tempatku ada, jangan harap bisa lancar, sering juga dengan tiba tiba hilang, begitupula di tempat tempat lainnya yang mungkin sama pelosoknya dengan perkebunan sawit ini, karena memang Kalimantan Timur sangatlah luas maka bersiaplah dengan semua kemungkinan suatu saat gak ada sinyal. nah maka ini bagi kamu yang tidak ingin akses internet di kehidupanmu terganggu, maka ini mungkin bisa menjadi pertimbangan dengan baik apakah Kalimantan cukup nyaman untuk kehidupanmu sehari-hari.
Kelima, Kamu harus bisa berdamai dengan kehadiran listrik yang setengah tulus bisa menemani hari harimu, sampai disini, kembalikan pertanyaan itu kepada dirimu, seberapa kamu tergantung pada listrik, apakah ½ hidupmu sangat bergantung pada listrik, untuk lampu, ricecooker, kipas angin, charger laptop, handpone, atau kepeluan lainnya, bersiaplah bahwa semua itu tidak hadir setiap waktu. Listrik yang ada disini adalah listrik yang berasal dari genset, jadi adanya listrik itu bergantung pada mesin diesel tersebut, dan membutuhkan bahan bakar minyak untuk menghasilkan listrik, tentu mesin tidak bisa 24/7 menyala memberikan aliran listrik di barak, ya pasti perlu istirahat lah dia.
Mengalirnya listrik di barak pekerja/buruh di perkebunan sawit ini hanya pada waktu pukul 18.00-22.00 WITA, khusus hari minggu pukul 18.00-24.00 dan pagi hari jam 09.00-12.00 WITA, eits, tapi tapi tapii, jelas tidak selalu pukul yang aku sebutin, tak jarang juga telat atau bahkan mati mendadak karena kerusakan genset, inilah realita yang harus dan mau gak mau dihadapi ketika memutuskan merantau di Perkebunan sawit, ini tidak mengatakan Kalimantan secara umum ya, karena hanya beberapa daerah yang memang belum mendapatkan akses listrik dari PLN, tapi setidaknya cukuplah membawa ekspetasi kamu pada orang yang merantau di Kalimantan Timur itu pasti uangnya banyak, enak ya disana masih belum padat blablablablaaa cukupkan ilmu kira kiramu itu ketika menilai orang merantau di kalimantan seperti itu, ya memang beberapa contoh orang yang merantau di Kalimantan memang banyak uang, ya itu kalo memang posisinya sudah di jabatan tinggi atau pengusaha.
Keadaan yang biasa dinilai orang dari luar jangan harap itu dirasakan para pekerja/buruh di perusahaan, disini itu susah kawann, banyak hal yang tidak dapat dilakukan dengan mudah oleh perantau disini, keluali mereka mereka bermental culas, pejudol akut dengan mudah dia topup dan main. Kehidupan banyak yang harus ditahan untuk merasakan listrik 24 jam, hal yang masih mustahil seidaknya untuk saat ini, entah gatau sampai kapan, okey? Sudah ada bahan pertimbangan lagi, masih ada lagi kok, tenang saja.
Keenam, kebutuhan hidup disini mahal, bagaimana enggak, kebutuhan makan sehari hari saja sudah melambung tinggi harga komoditasnya, contohnya sayur tomat, bawang dan cabai, itu saja dirasa sudah tidak ngotak is very very expensive, omong-omong dengan kebutuhan yang mahal ini tidak terlepas dengan hitung hitungan ekonomi di sebuah daerah yakan, pokok sekali makan sama minum itu di Kalimantan habis 40k dengan lauk tempe saur lodeh, ditambah telur sama oseng oseng tempe dan dadar jagung sama air Aqua botol besar jadi 50k sekali makan, belum lagi yang daging daging, pernah beli daging payo-payo/rusa itu 30k aja Cuma sebungkus 5k pentol biasa kalo di jawa.
Kebutuhan sehari hari saja sudah begitu mahal, jika dihitung dengan gaji seorang buruh/pekerja disini pun pasti bisa saving sedikit, untuk nominalnya mungkin relatif, katakan saja dengan gaji 3.5jt kebutuhan bulanan 1.5jt, hanya bisa save 1,5 itu kalo hidup hanya di kebun seperti aku saat ini, dan gapernah kemanapun. Mungkin bisa kesimpen, beda cerita lagi kalau disini membawa kendaraan bermotor dan bisa kesana kemari pasti beda lagi pengeluarannya. Intinya bisa nyimpen uang tapi kalo memang kamu hidupnya hanya kerja, pulang, kerja-pulang gitu terus haha, gausah kemana mana, orang juga mahal mahal, bisa kesimpen uang berapa lama itu, belum lagi kepikirannya untuk masa depan biaya untuk nikah, hidup bareng istri, kepikir untuk KPR tanah juga loh, sudah mulai overthingking?.
Ketujuh, Jangan berimajinasi kalau alam di Kalimantan Timur ini semuanya masih asri dan indah, coba kamu buka youtube search aja pertambangan batubara di Kalimantan Timur, lihat saja konten youtube Roadtrip Indonesia yang di kalimantan, bagaimana kamu bisa melihat situasi alam, mungkin sebagian karena video sitematik tapi banyak juga investigasi yang dilakukan Narasi, melihat lebih dekat betapa hancurnya alam kalimantan yang diekspoitasi habis-habisan yang katanya demi kemajuan ekonomi negara, demi kesejahteraan, wah nanti panjang lagi ngomongin kesejahteraan dan korporasi tambang raksasa ini, bukan otoritasku juga wkwk.
Hutan kalimantan memang sebagian besar menjadi habitat fauna endemik dan beragam flora yang tersebar di berbagai wilayah, namun jika kamu buka map dan zoom lebih dekat, hijaunya pulau kalimantan itu tidak lain hanyalah tempat berdirinya tumbuhan tumbuhan industri, seperti kelapa sawit, tumbuhan eucalyptus pellita f. bahan baku kertas, atau tumbuhan kelapa sawit yang memenuhi hamparan tanah di Kalimantan Timur ini, jadi jangan berandai andai jika alam ini indah, Indah apanya, orang tanaman sudah homogen semua, pemasok industri industri yang dikuasai konglomerat.
Terakhir pertimbangan bagian lain dari hutan Kalimantan Timur adalah dengan melihat bagaimana dampak dari pertambangan batubara, menjadi kobangan kobangan maut, menjadi wilayah yang tandus dan gersang, lalu tersisihkannya para penghuni asli hutan itu, orangutan, monyet beruk kalimantan, burung burung penghuni asli ini seperti burung gajahan timur, betet ekor panjang, rangkok badak, angkong gading, kangkareng hitam dan berbagai jenis burung lainnya terpaksa tersisihkan dari habitat aslinya karena beralih fungsi dengan hadirnya pertambangan batubara. Sudahkah memikirkan sesuatu terhadap keadaan alam Kalimantan Timur?.
Jika kamu akan merantau ke Kalimantan Timur, siapkan diri baik baik untuk siap menerima kosekuensi yang ada setelahnya, kenali baik baik dimana tempat kelak yang akan menjadi tempat perantauanmu, uraian pengalamanku diatas ini hanya berada di Kalimantan Timur, tepat di Kabupaten Kutai Timur dan berada di pelosok di perkebunan kelapa sawit, mungkin juga akan berbeda cerita jika tempat kerja ada di kawasan yang sudah ramai penduduk, seperti kabupaten Bontang, Sagatta, apalagi Balikpapan atau Samarinda. Jelas disana lebih maju, semangat untuk semua pejuang!
Penulis: Bagus Aji Nusantara
Editor: tanpa di edit spontanitas langsung ketik dan upload

Komentar