Sebuah film fokumenter karya kolaborasi Watchdoc x Greenpeace yang apik dalam menggambarkan realita permasalahan pesisir utara terutama masalah banjir rob, abrasi dan landscape permukaan tanah. Diskusi bareng Dandhy Dwi Laksono, Rocky Gerung dsn Asfinawati, yang dimoderatori oleh Hindun Mulaika dari Greenpeace Indonesia.
Melihat relaita warga yang hidup di pesisir secara umum, disini banyak yang dilihat mulai dari kehidupan warga petani tambak ikan bandeng di Gresik, warga desa Tambakrejo Semarang, Pekalongan, Bekasi hingga Jakarta yang terimpa persoalan di tempat tinggalnya.
Semua daerah itu bersama-sama disatukan dalam isu yang sama, dimana mereka dipaksa untuk beradaptasi, bahkan tidak ada pilihan untuk migrasi, dienyahkan memori kolektifnya tentang ruang hidup, sekolah, bahkan kuburan yang tenggelam. baris soasial masyarakat merekalah yang menunjukkan peroblematika iklim, sosial ekonomi berkelindan berpengaruh sehingga mungkin ini bisa jadi salah satu wacana yang baik untuk kita kita ini dari sebuah dokumenter sangat memberikan pelajaran yang berharga.
Kondisi alam dalam 10 dekade terakhir memburuk rupa dampak nyata krisis iklim, masyarakat adalah pihak yang secara langsung terdampak dari krisis iklim. betapa mirisnya ketika melihat permukaan perairan lebih tinggi daripada daratan (sudah terjadi di pesisir Jakarta Utara).
dalam film ini menimbulkan 2 emosi, Marah dan senang. Senang karena ini suasana lirih yang dibuka dengan gamblang pada film ini, ini adalah penyampaian yang sederhana dengan mudah menyampaikan kenyataan yang diderita rakyat, marahnya ada banyak.
Ini adalah problem peradaban, pada prinsipnya environment jadikan grammar politik baru, karena sering disalahtafsirkan bahwa seolah-olah orang yang membicarakan lingkungan hanya menyangkut satu dua orang yang membicarakannya, sebagai contoh amdal atau sebut saja kepentingan kepentingan naskah naskah akademik seringkali digunakan untuk membela industri industri bukan untuk intrinsik value dari lingkungan.
Pemotretan disaster ini akan menjadi jejak sejarah bagi manusia, dan bisa jadi memperlihatkan kelompok masyarakat rentan yang mengalami masalah, dimana terjadi distorsi demokrasi/distorsi politik, bagaimana penguasaan kapital industri terhadap peta politik dikuasai oleh elitis, sedangkan saat yang bersamaan ratusan atau bahkan ribuan warga yang masih berjuang dan bertahan di rumah reot atau lingkungan yang tidak lagi dalam ancaman, bahkan sudah mengalami penenggelaman.
Kerusakan ini tidak hanya sekadar kerusakan teknis, melainkan kerusakan generasi, jika diruntutkan semacam kalkulasi politik ekonomi, eksploitasi orang terhadap alam, itu akibat dari eksploitasi orang terhadap orang, silogisme ini dari posisi seorang yang paling ter eksploitasi yaitu seorang perempuan, karena perempuan adalah proletar dari proletarnya proletariat, kedunguan negeri itu diukurkan pada kehidupan perempuan yang menangis bukan karena dompetnya yang kosong, tapi menangis karena masa depannya yang direnggut.
Kita membutuhkan keterangan-keterangan yang melebihi birokratis, bicara tentang lingkungan, yang menguasai gak lagi oligarki melainkan plutokrasi. anjir keras bangett ini om rocky 😬, seorang plutokrat bisa mengatur bagaimana ia bisa merampas lingkungan itu dengan cara masuk akal "licik"? ya ditanamkan orang (di wilayah tertentu untuk jadi pemimpin whatever bupati, gubernur dsb), lalu bagaimana jika ada yang tertangkap karena pelanggaran? ya di atur bagaimana nantinya agar orang pesuruhnyalah yang akan menangani kasusnya, dan bagaimana jika masuk penjara?, ya nanti sipirnyalah yang di atur supaya sesuai jalan pikirkan politik sesuai kepentingannya.
sepertinya cukup dulu, aing sudah cape, cabs nonton dokumenternya↓

Komentar