Malam Yang Gerah, Api Meromantisasi Malam Ini


prataan 2 november 2024

Anak muda puya banyak cara meromantisasi suasana, biasanya suka afirmasi quote yang berseliweran di explore sosial media lagi, gatau sih bener apa engga, misal "Malam yang gelap dan kita yang teramat kalap, hanya aku dan kau bergeming tak berarti, kata hati yang terhenti mati" ciuiuiu. Biasanya malam yang indah itu berkaitan sama api unggunlah ya, ia seolah menjadi pelengkap suasana hangat malam hari yang menjadi saksi momen-momen istimewa, apalagi dengan topik pembicaaannya, "Api adalah pihak ketiga yang paling bisa ditoleransi" kata om Henry David Thoreau, padahal, apa memang dia yang bikin suasana lebih hangat, atau hanya perasaanmu aja yang berlebihan.

Malam kala itu di Prataan, Tuban menjadi pilihan alurnya hidup jadi saksi singkatnya waktu dialog basa basi mengayunkan hati wkwk cukupp, sebenarnya malam ini malam yang biasa, nongkrong di kegiatan camp-camp kecil kecilan bareng anak-anak organisasi, yaa sebutlah malam keakraban/family gathering. tergugah untuk membuat rekap kecil sebuah perjalanan rasa dan alasan makna menari liar hanya diatas kepala(ia seperti mimpi). Malam yang sudah hangat tanpa perlu api unggun sebenernya, tapi memang anak organisasi terbiasa merekayasa suasana seolah ini adalah waktu kita akrab dan saling mengenal satu sama lain dan bercengkrama ini itu, ya inilah salah satu penunjangnya, malam yang akrab dengan api.

Tetapi, apakah api ini membawa keakraban antar kita, atau kita hanya membuang waktu tak berguna dan sia-sia saja tanpa arti yang berharga selain memang hanya kehadiran tanpa antusias rasa. ini tentang organisasi dan multidimensi, tak jarang pula organisasi bisa jadi salah satu penghubung mulai dari pertemuan, perkenalan dilanjut umumnya pertemanan sampai pada uhhuk biasanya sih perasaan, sambung dari perasaan biasanya organisasi terbuai perlahan karena rasanya menemukan pujaan. malam ini tak  jauh dengan dugaan pirsawan(salah satu multidimensi) cilah ngeles. 

Pada wakatu ini teringat pada lagu Alkateri bertajuk "Egosentris" yang bilang kalo  "Senangnya hati menembus sekat memaksa takdir" dialnjutkan pada lirik "Egosentris, mengambil peran di atas nalar, yang tak pernah sepadan". masa ini seperti alur yang musti diikhlaskan hanya berlalu pada udara tanpa arah dikte mimpi kenhendak diri, terlampau gelap realita tak menentu ini meminta apa-apa sekonyong-konyong pula.

Semakin malam berlarut Api kunjung mengecil dan mati menyisakan abu berserakan, tak apa walaupun hanya sedikit pertanyaan dan hanya satu paragraf jawaban, malam yang gerah, api meromantisasi malam ini.

Komentar