Sungai Bukan Tempat Sampah


Tumpukan Sampah Jembatan Ngasem-Bojonegoro

Tumpukan sampah itu berada persis di aliran sungai yang mengalir melewati desaku, Desa Dukohkidul kecamatan Ngasem, Kab. Bojonegoro. dulunya waktu masih bocil, sungai ini jadi salah satu tempat bersejarah karena kebanyakan waktu bermain yang paling menyenangkan ada di sungai, biasa cari ikan, renang, loncat-loncatan, dulu juga suka cari rembesan air dari tanah tepian jurang di sisi sungai, kita waktu itu nyebutnya sumberan buat mainin bendungan kecil kecilan di sisi sungai.

Tapi sayang, sekarang wajah sungai di Ngasem tak lagi sama, tak lagi bersahabat untuk menjadi taman bermain bagi bocil, disadari atau tidak, lima sampai sepuluh tahur terakhir debit aliran sungai disini memang mengecil bahkan sering kekeringan, rasa rasanya sungai hanya jadi sarana aliran air numpang lewat kala musim penghujan saja.

Jangan dulu deh ngomongin tentang debit air yang mengecil sampai kekeringan yang terjadi cukup lama sepanjang sungai ini, orang sungai aja sekarang malah jadi tempat pembuangan sampah, boro boro bicara tentang krisis iklim, pemanasan global, darurat sampah. membuang sampah pada tempatnya saja belum membudaya, yang membudaya malah kebiasaan saling menyalahkan, sok paling bener sendiri mana udah tau salah enggan minta maaf lagi, syukur syukur kalo mau tafakur apalagi syu'ur hehe.

Kira kira kenapa masih banyak orang yang membuang sampah di Sungai? 
- jika jawabannya "karena masyarakat kita ini berfikir bahwa sampah dia pasti nanti ada yang bersihin" nandain kalo masih minimnya rasa tanggung jawab dan kesadaran, emang klean-klean pikir semua sampah ini tanggungjawab Pandawara apaa.
- jika jawabannya "nanti kalo banjir juga sampahnya hanyut, kan sama saja nanti" bisa difikir baik baik kah gimana dampaknya buat ekosistem air dari hulu sampe hilir, kalo belum nyampe juga mikirnya tolong siapa orang yang ada dideketnya toyorin palanya bentar aja:) kasi tau, yang idup di dunia bukan elu sendiri ya cin, ngab, tehh, wak, eh tapi harus disampaikan dengan halus ya, katanya sih harus mentingin adab, etika ketimuran harus dijaga dengan ngedepanin tata krama.
- jika jawabannya "aman kok, orang dari dulu kita buang sampah di sungai, sampe sekarang juga gak kenapa kenapa", tapi tau gak akibat buang sampah sembarangan kamu itu, bengawan solo sekarang banyak membawa sampah hasil kiriman dari hulu sungai, lagi lagi yang banyak kena dampak itu hilir sungai.

Tapi memang kenyataan seperti ini memang serba kesulitan, serba serbi cara pun layaknya dapat diupayakan untuk membantu menyebarluaskan kesadaran, elemen yang terlibat pun harus lebih banyak lagi multilateral, tidak terkecuali termasuk peranan yang penting adalah peranan pemerintah setempat dalam penertiban dan edukasi pada masyarakat keseluruhan akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya, sampai dengan pengelolaan sampah mandiri mulai dari memilah organik dan anorganik di rumah masing masing.

akhir kata dari keresahan yang ada ditutup dengan harap, mengingat bahwa kita semua ini tak melupakan paradigma antroposentrisme, manusia merupakan pemegang pusar tertinggi etika bagi alam semesta, kendali atas alam tergantung manusia, bahkan alam pun pada hal ini sebagai pelayan atas hajat dari manusia seperti pemenuhan kebutuhan kebutuhannya, dengan itu kendali atas keadaan alam juga bergantung pada perilaku manusia.

Sungai bukan tempat sampah!

Komentar