Berkemas hari terakhir saat berpamitan dengan emak, bapak, dan adik adik serasa menyulutkan semangat baru melakukan sesuatu diluar rencana dan mimpi, meninggalkan sedikit sedih sesekali menjatuhkan air saksi perjalanan Bojonegoro - Kutai Timur ihi meloo, bersiap untuk tidak hanya meninggalkan orangtua, karena semua hal yang bisa dan biasa dilakukan, teman teman dan segala ceritanya akan jauh menjadi rentetan kisah yang hanya terkenang.
Perjalanan hidup masing-masing orang berbeda “ingat kalimat yang filosofis itu”, ini salah satu contoh perjalanan hidup yang bahkan orang menjalani tak memiliki angan angan untuk hidup seperti ini. Ya, aku adalah seorang biasa yang sampai saat ini memiliki mimpi namun perjalanan meraih mimpi sepertinya cukup tersimpan dulu dalam telanan ludah, selain itu berjalan menikmati segala dinamika kehidupan membawa arus ini mengalirkanku kepada apapun situasinya, pada inti dan kenyataannya akan berjalan begitu saja sesuai alur dengan menikmati semuanya yang ada.
Mungkin berbagai perjalanan hidupku untuk masa depan pernah ada dalam sebuah mimpi, scence hidup ada di pulau ini, baiklah jalan ninjaku mungkin ini, atau memang bukan ya sudahlah tak apa santai saja lagian apa juga yang mau ditunut dalam hidup ini jika memang berangkat dari apa-apa yang tak ada, awowowoo barudakk, haduh begini amat idup, eh aku ralat deh dibikin “baiklah, stay calm and more better”.
Kesan pertama dalam perjalanan belantara hutan tiba disuguhkan kerusakan alam yang menjadi perebutan kuasa elit pengeruk keuntungan dari emas hitam sumber daya khas yang ada di tana borneo ini tak membawa senyuman bahagia, yang ada justru terbayang bayang berita di media sana tentang nasib vegetasi flora beserta fauna, dan bertanya tanya perihal masa depan kehidupan di tanah ini, terbayang kecemasan janji-janji politisi terhadap negeri ini.
Setelah memasuki area hutan semakin dalam membuktikan selama ini apa yang terlihat di google maps itu nampak bagaimana kenyataan hutan-hutan disini, bahwa ilusi hijau hijaunya tanah Kalimantan itu bukan tanaman hutan gambut heterogen, sepintas terliat dari satelit memang hijau, namun semua hijau hijauan itu hanyalah hutan tanaman industri, jelas sewaktu panen begitu saja akan dipotong habis, dan ditanam kembali tanaman industri, seperti ini keadaan tanah Kalimantan bagaimana enggak speechless jika terbayang masa depan, tapi beda lagi jika pertama yang dilihat di kalimantan adalah ladang pengisi dompet, jelas beda cerita, mungkin ini akan menjadi sumber ekonomi yang sangat cuan, apalagi oleh korporasi raksasa semakin cuan mania lagi.
Sebagai generasi yang diunggul unggulkan “katanya” untuk masa depan negara yang lebih baik, mencoba merenungi dan meresapi omongan si paling pemerintah, setiap tahapan dan pengalaman orang orang dan teman sekitar, terkait ekonomi yah tentunya, apasih yang dirasakan mungkin sebagian, atau bahkan lebih banyak dari mereka ya, idk, kayanya juga pasti speechless keadaan ekonomi begini gini saja.
Ditambah lagi job hunter yang ada jadi momok tersendiri bagi kawula muda sekarang, bagaimana tidak, susahnya lowongan kerja dan sulitnya meraih keprofesian jika hanya mengacu hanya pada ijazah kuliah saja tanpa sertifikasi, lagipula jika mengambil berbagai sertifikasi-pun merogoh kocek lebih dalam, bukan rahasia lagi jika memang keadaan keluarga dengan ekonomi yang relatif biasa biasa saja ini akan terhimpit di situasi itu untuk meraih impian selanjutnya, jelas akan tertunda pada akhirnya memilih mencari pekerjaan apapun sebagai batu loncatan menyukupi kebutuhan hidup dari keringat sendiri.
Alasan itulah yang melatarbelakangi nasib mengarah ke kalimantan, sebenarnya tak ada yang membanggakan dari perjalanan ini, karena semua begitu biasa-biasa saja, memulai kehidupan baru di situasi serba terbatas, akses pun serba susah dan berbagai kekurangan yang pernah aku tulis di coretan sebelumnya bertajuk “Sebelum Ke Kalimantan Timur, Hendak dipertimbangkan Dulu”, sehingga hanya ada keprihatinan dan belum dapat memilih apapun selain menjalani kehidupan depan mata bagaimana realita hidup daya tahan dalam isolasi rimba industri kaliamntan.
Aku mengerti jika struggle for the job or anything setiap orang jelas berbeda, jika memang nasib baik atau mungkin privilese yang dimiliki orang lain akan kondisi ini, tentu itu keberuntungannya, jadi jangan melulu menyalahkan keadaan, kitalah yang memang harus selalu berjuang lagi, namun salah satu hal menyimpang juga mungkin aku rasa saat ini, bagaimana ketidaknyamanan terasa ketika apa yang kudapat itu ternyata hasil dari sistem yang memang secara turun temurun selalu membawakan privilese dari orang terdekat, titipan dll seolah olah itu memang hukum alam, jadi bukan lagi rahasia, tapi jangan mengecilkan itu juga, karena paradoksnya, justru banyak hal yang mungkin yang kita dapat, bahkan rezeki pun tak jarang juga mengalir terlebih dulu dari orang orang terdekat, bisa jadi dari keluarga sendiri, atau mungkin pasangan bahkan dari relasi pertemanan dan sebagainya. Catatan, ini bukan berarti membenarkan sesuatu yang tanda kutipp “nepotis”, dimana mana nepotis tetaplah nepotis, curang tetaplah curang, sudah cukup begitu saja.
Satu satunya jalan sepertinya adalah menjalani saja dulu apa yang ada, meskipun di situasi seperti ini seperti berhenti sejenak habits sebelumnya dan memulai dari 0 siapapun yang tak mengenal, tak mengerti satu sama lain bahkan dari background sangat beraneka ragam, tentu saja ada di situasi baru ini memunculkan ketertarikan baru pada hal “pengamatan” yang sementara waktu ini kuambil sendiri sebagai hipotesa pribadi untuk beradabtasi, ooh jadi begini beginu dan seterusnya.
Komplek ini mungkin cukup terasa heterogen budaya masyarakatnya karena penghuni daerah ini khususon yang bekerja di perusahaan sawit memanglah berasal dari berbagai daerah, diantaranya banyak berasal dari Flores NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah dan banyak lagi suku yang berbaur di sau tempat ini, namun dari pengalaman pribadi ada situasi teramat naif untuk diri sendiri yang merasa tak mampu untuk berbaur, ohh sepertinya disini aku baru tau bagaimana berbaur dan bergaul dengan orang, ternyata itu beda, ada yang memang sesaat berbaur hanya sebagai basa basi saling sapa saja untuk saling kenal dan menunjukkan keramahan, namun beda jika bergaul, karena lambat laun juga ternyata terasa jika ada eliminasi alami dari perkumpulan sosial, bagaimana algoritma pergaulan sosial disini hidup dan apa-apa yang memang menjadi batasan pribadi dalam mengatasi lingkungan demikian sehingga yah begitulahh.
Sepatutnya bergaul gak dipaksakan tanpa kehendak hati, namun sisi lain selayaknya harus tetap bisa care kepada siapapun namun kadang juga memaksakan untuk bergaul di sirkel yang kadang juga merasa ga nyaman atau ga nyambung, wkwk ya itu clue ikhtisar tatkala berada disini, abailah tak apa, isi hanya berkisah yang sangat subjektif ini haha, overall memang baik baik orang orangnya, jikapun berkelompok dengan sejawat atau kanan kiri ternyata gak nyambung, sepertinya harusnya aku yang mengeliminasikan diri dari rimba industri ini, oou tak semudah itu.
Campur aduk apa apa yang ada mengingatkanku kepada kata doi ehm-ehm um, kala itu dia bilang begini “kalo memang hidup itu pilihan, selagi ada pilihan lain, yasudah pilihlah yang lebih enak”, namun sepertinya jalan kedepan juga belum tau, namun kata-kata doi ini memotivasi untuk tidak takut mengambil keputusan sekirapun belum menjanjikan untuk masa akan datang, walaupun sebenarnya belum ada pilihan yang lebih enak, tapi bersemayam benih keberanian dibaliknya, asekk, hidup pun tak tau sampai kapan, selalu sertakan daya juang dalam diri meskipun himpitan menekan akal dan tindakan dan perjalanan hidup selalu berjalan seiringan dengan waktu, baik tawa sedih atau marahku, selalu mencoba mengingat rasa syukur dan berjalanlah lagi!.
![]() |
pict: 2 juli 2024 |

Komentar