Mencari pekerjaan mungkin menjadi persoalan banyak anak muda baru lulus atau mungkin juga banyak orang yang memang berada dalam situasi ekonomi menengah atau turun sedikit bahkan terjun juga, kita tak saling tau karena kebanyakan isu-isu ekonomi cukup sensitif atau bahkan riskan ya jika diumbar umbar dalam perbincangan, maka dari itu tak banyak juga orang yang memiliki persoalan ini cenderung diam dan memilih tak menceritakan ke orang lain, bahkan sekalipun ia sangat ingin bercerita yang dianggapnya sahabat dekat atau apalah nyatanya juga enggan mengisahkan keadaannya.
Selanjutnya bagaimana keputusan untuk bekerja atau menentukan nasib diri dalam hal ekonomi pun banyak persoalan, baik dari internal diri sendiri maupun eksternal, biasanya jika faktor eksternal karena orang tua. Pengalamanku sendiri ketika pasca kelulusan sarjana pun serasa masih gambling karena berbagai alasan, kemungkinan ada kaitanya dengan paragraf atas, pertaruhan untuk hidup dan mencari kehidupan seperti hendak perang, untuk orang yang tak memiliki keberanian atau orang yang gak banyak mencari tahu mungkin jalan kemudian hari akan terus terasa begini gini saja, walau sungai meluap dan kurs tak masuk logika, ngapain sih malah nge-lirik “cincin”, kembali lagi pada suasana pasca kelulusan adalah awal periode gambling dalam memilih keputusan perjalanan hidup selanjutnya.
Pada mula tak terfikir aku memiliki cita-cita yang pakem, keinginan meraih sesuatu yang sampai saat ini menjadi mimpiku untuk masa depan hanya sekedar mimpi, rasanya hidup hanya mengalir saja, tapi kadang juga terfikir sejenak ketika diingatkan oleh Amigdala tajuk “Di Amabng Karam” (jangan mau tuk mengalir, sebab kau akan terbawa arus”, namun tak semua hal itu memiliki proses yang sama dengan orang lain, ya inilah proses dan segala pengetahuan yang dijalani, enggaknya hanya angan angan itu sementara waktu menjadi jawaban.
Arus perjalanan hidup yang sangat berbeda beda dari setiap insan membuka cakrawala bahwa semua kemungkinan bisa terjadi, hanyasaja fikiran sempit manusia kadang menjadikan belenggu itu terjadi, untuk menjadi apapun dan bagaimana proses kita dalam meraih sesuatu biarlah menjadi proses yang misteri, lagian esok hari dan esoknya lagi bukannya kita pada hakikatnya enggak tahu akan menjadi apa bukan?, sebaik baik apa perencanaan, mimpi yang ditanam dalam dalam di hati, itu memang salah satu menjadi penyemangat agar kita tak hilang arah, namun pada kenyataan di tengah jalan kehidupan kita yang sangat dinamis ini bisa saja apapun terjadi tanpa disangka sangka.
Panjang cerita kemudian, nasib jalan yang tak disangka membawa alur hidup ke Kalimantan Timur, awal cerita berasal dari Komplek perusahaan Kelapa Sawit WTC. PT. Wahana Tritunggal Cemerlang yang berletak di Kecamatan Karangan, Kab. Kutai Timur, adalah salah satu perusahaan kelapasawit yang dimotori oleh Group Gunta Samba, selengkapnya silakan selancar sendiri apa trackrecordnya. Bicara tentang awal perjalanan ini jangan disangka betapa mulusnya perjalanan, infrastruktur yang rusak sama sekali tidak mengindahkan perjalanan ke tempat kerja, belum lagi hidup setelahnya, mau di kata terjal, penuh daya juang, orang yang memiliki kesabaran dan rasa syukur layaknya memang harus tinggi jika hidup disini.
Pelajaran ini kebetulan aku ambil sendiri dari kakak kandung, yang kurang lebih sudah sedari tahun 2013/2014 merantau di Kalimantan Timur, dan sampai aku sampai di Kaltim ini tanggal 22 Mei 2024 ini, kemudian kutanyakan apakah memang ada keinginan untuk berhenti? Dia jawab kalau belum juga mau berhenti kerja di Kalimanan Timur, apalagi ini kan kerja di Perusahaan sawit, terbesit, memang seperti apa sih bekerja di perusahaan sawit, dan menjadi driver Dump truck dan selebihnya hidup di sini kok sampai sampainya selama ini enggan puang mencari kerja lain dan angkat kaki dari perusahaan sawit, sementara di aspek lain, banyak kanal media yang menceritakan bagaimana peranan perusahaan kelapa sawit dalam pertumbuhan ekonomi, pemenuhan hak hak dasar dalam kehiduapan para pekerja dan hal lainnya.
Kehidupan di lingkungan pekerja perusahaan kelapa sawit teramat sederhana, sesederhana bayangan ketika kamu membayangkan daerah pedalaman dengan segala hal yang jauh dari kemudahan akses. Dan kini, aku mulai kehidupan dengan sesungguhnya memulai berdiri tanpa tongkat, berjalan tanpa dipapah dan makan tanpa disuap dan nyaman tanpa pelukan.
Kala tiba di Kalimantan bersama dengan barang barang material bangunan, disini mengenal seorang bapak bapak bernama cak Indro asal Malang, dengannya memulai adaptasi dengan lingkungan baru pedalaman perkebunan kelapa sawit Kutai Timur-Kalimantan Timur, dengan perasaan sangat carut marut, apaka benar ini kehidupan setelahnya, apakah sejauh ini kehidupan yang harus kurasakan, akan seperti apa jika aku hidup dengan kebiasaan yang sangat jauh berbeda dan akan memulai dengan kebiasaan kebiasaan baru dan berdiam diri dengan waktu begitu lama, gak, ini gak akan terjadi “protes dalam hati”.
Perbincangan tipis tipis sembari menurunkan bahan material bangunan dan bahan barang barang lainnya dari dump truck, aku banyak menanyakan sesuatu kepada kakak dan cak indro, bagaimana kehidupan disini, di barak buruh perusahaan kelapa sawit, dan semua orang menjalani kehidupannya hari hari dengan fasilitas yang terbatas layaknya bandinganku dalam angan angan adalah jawa, dan cak indro menjawab beserta nasihat “ya beginilah hidup di perusahaan sawit, kita disini hidupnya hanya untuk kerja dan menabung, tatkala memang sudah ada tabungan, sesekali juga mengingat untuk pulang ke kampung halaman di jawa sana, gak semua orang dapat pekerjaan enak di jawa, walaupun disini kerja dengan keadaan yang terbatas, namun jika kita sendiri bisa mensyukuri apa yang ada pasti juga akan terasa ringan dan biasa biasa saja, kembalikan semua itu pada pola berfikir diri sendiri”.
Kakak menambahkan, hidup ini sebenernya juga penuh dengan kesulitan, namun karena sampai saat ini tidak ada pilihan lagi ya ini dijalani saja, disyukuri, ini kamu baru merasa kan, bagaimana gambaran kakak mencari uang di Kalimantan selama ini, bagaimana keadaan dan keterbatasan yang ada?, demi apa semua ini, ya jelas untuk kondisi ekonomi kita sendiri”, semakin tertegun mendengarkan apa yang dituturkan kepadaku, mungkin awal yang dirasa cukup berat beserta pertimbangan pertimbangan segala macam apapun yang akan aku jalani disini, sejenak menghela nafas dan bergumam “ketika memang perjuangan untuk mencari uang sebegitu sulitnya, bahkan kadangkala menetralisir ketidaknyamanan dengan kebiasaan kebiasaan baru yang mungkin akan sedikit sedikit menjadi sahabat hari hari. Singkat cerita waktu menurunkan barang dari truk cukup sediit banyak memberikan masukan batin untuk sejenak bertahan dan berjuang untuk menjalani lingkungan yang baru karena dengan situasi saat ini belum memiliki pilihan lain, selain menjaga stabilisasi ekonomi pribadi anak muda dengan ekonomi menengah menipis yang jelas boro boro ngomongin tabungan, jangan lagi bermimpi dengan sepetak tanah terbeli untuk wisata masa depan anak istri, rasanya fikiran sejenak ini bagaimana bisa mengisi nyawa dengan uang hasil kerja sendiri.

Komentar