Kekuasaan tidaklah ada yang absolut, semua pasti tak murni dan bebas dari campuran, terlebih pada negara demokrasi, kekuasaan tidak selayaknya dapat memonopoli segalanya: wewenang, kekerasan hingga kapital.
Jangan lantas mudah menyetujui apa saja langkah penguasa apalagi membenarkan berbagai tindakan otoriter bahkan memberikan nilai “mulia” pada semua kebijakan politik.
Semua orang memang selayaknya memiliki kesempatan yang sama, tak lantas dari demokrasi jadi intoleransi, perbedaan pandangan lalu saling menyerang.
Jangan terlarut pada situasi muram lantas bungkam atas segala kondisi yang mungkin kita tidak mengalaminya langsung, lalu memandang sebelah mata apa apa perjuangan yang dilakukan orang lain, kekritisan atas situasi dan cara orang lain dalam beropini.
Idealisme bukan hanya sekedar pilihan, tapi jalan hidup yang musti dimiliki, akal dan nurani sebagai orang terpelajar hendaknya dapat membuka pemikiran akan hal hal di sekitar kita, bukan justru malah menutup mata dan telinga atas kesewenang-wenangan dan ketidakadilan yang kini marak kita jumpai di media.
Ilmu pengetahuan yang kita cari dan yang kita miliki saat ini tidak hanya punya misi untuk mendapatkan pekerjaan, tapi juga peran perjuangan.
Membela kebenaran bisa membentuk jiwa, pengalaman mengasah kepedulian, rohani jauh lebih kaya jika bersama hidup dengan yang menderita, segala bentuk penindasan harus dilawan. Tanpa perlawanan atas penindasan dan kesewenang-wenangan hidup akan seperti dalam sistem jajahan.
Komentar