APA BUKTI TUHAN ADA


Resume endgame Bagus Muljadi X Sabrang: sains dan agama tidak selalu dikotomis

Pembuka kata Bagus Muljadi kepada sabrang, ia sangat interdisipliner dalam berfikir, santun dalam bertutur dan polemis dalam berkata kata, Cukup menukik juga sih wkwk

Ruang diskusi yang bisa kita rasakan adanya kebebasan dalam bermetafora ada didalam majelis maiyah, kenduri cinta, bagaimana orang orang rela duduk berjam jam untuk mengaji pemikiran, perbaikan pola fikir bahkan tidak hanya dengan durasi singkat, bahkan sampai tembus pagi hari, banyak genre yang terbahas baik dari segi filosofis, religi bahkan seni, adanya komunitas maiyah ini justru unik, karena kebebasan bahasan bisa saja bermuara di ruang diskusi ini.

Mengapa semua genre ini bisa sedemikian menjadi satu dan dapat terjalin begitu hangat?, sabrang menjawab mengapa maiyah ini dapat terjadi, dengan menganalogikan dengan musik, didalam musik kan instrumen yang dimainkan sangat banyak tapi tidak semua membawa take are attention, karena semua itu silih berganti, ketika vokal bersuara maka attention mengarah pada suara vokal, kemudian jika yang bersuara adalah gitar maka attention itu pun tertuju pada gitarnya, serasa langsung ingat dengan intro musik dari payung teduh “untuk perempuan sedang dalam pelukan” dan intro peterpan “semua tentang kita”, jadi sebenernya itu semua berjalan pada bit yang sama.

Pada intinya banyak model disiplin yang dapat dipakai dalam berbicara terhadap ilmu ilmu yang berbeda sehingga sebuah sekumpulan itulah yang mendasari terwujudnya majelis maiyah dengan karakter yang dimilikinya. Lalu bagus menanyakan kembali, kan kalau anda berfikir secara matematis, maka anda berfikir secara logis, kalau berfikir secara logis maka gak mungkin lalu kamu campurkan dengan unsur-unsur spiritual dan filosofis?, jawab sabrang, kita memandang matematika jika dengan low resolution kita akan punya pandangan kalau itu dikotomis, namun jika kita kita punya pandangan hire resolution bahwa setiap ilmu itu pasti ada yang memiliki tingkat truth-nya tinggi, pada sebuah titik tertentu ia tidak dapat memakai tingkat titik truth itu.

Agama, sains, matematika itu secara vertikal memiliki degree, maka apakah ada hierarki of truth?, mungkin bisa disebut dengan kata lain adalah levels of abstraksi aja, ada area bagaimana kita tidak tahu tentang sesuatu, dan kita dapat menyatukan sesuatu dari ilmu yang berbeda pada level abstraksi yang berbeda pula, kalo mainly di agama itu truth nya by inference. Kita bisa mengatakan bidang ilmu matematik atau fisika itu narasi of science/science direction, beda jika ini tentang agama, dia set of law-nya sendiri.

Tapi ingat truth tidak selalu bersamaan dengan right, bahasa indonesia itu limit, dengan ini saja, siapa yang bisa membedakan dengan orisinil apa itu benar dan kebenaran. Aduh belum nyampe otakku bjirr. Jadi level abstraksi sains dengan agama saja epistemologi, namun ada domain yang setidaknya bersinggungan, karena belum sampai, dengan ini aku inget pada ceramah K.H Bahaudin Nur Salim, konsep tauhid sederhana, “onok e teletong, seng jelas yo ono sapi”, dimana dalam sebuah ruang “dunia” ini tak terlepas dari sebab musabab, ingat jika ada kotoran sapi pasti ya gara garanya ada sapi, tidak semua hal yang ada di dunia ini ada dengan tiba tiba tanpa sebab dan pencipta. Wallahu ‘alam biss showabb.

Komentar